Laci Inspirasi

  • Laci Bandungan
  • Laci Kerja
  • Laci Puisi
  • Laci Renungan
  • Laci Studi

Kemarin habis nonton film Sore : Istri dari Masa Depan. Baguuuusss banget. Jadi ketrigger mau bikin review filmnya. Disclaimer : ulasan ini berdasarkan pengalaman pribadi, jadi ya pasti subyektif.

Berbekal note-note kecil, penghayatan, dan kolaborasi penulisan dengan AI. Here we go!



Sore: tentang waktu, pilihan, dan renungan batin

Ada film yang nggak cuma enak ditonton, tapi juga tinggal lama di hati. 

“Sore: Istri dari Masa Depan” bagi saya bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah perjalanan jiwa, tentang ruang, waktu, dan bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri.

Jonathan, tokoh utama dalam film ini, bertemu dengan Sore. Sosok perempuan yang misterius, tapi terasa dekat. Ia muncul setelah ulang tahun Jonathan, membawa sebuah pesan yang hanya bisa dimengerti jika kita benar-benar mau mendengarkan.

-

Babak awal cerita dimulai dengan gambaran kebahagiaan saat Jonathan dan Sore damai bersama. Namun, seperti banyak dari kita yang suka keras kepala, Jonathan mengingkari permintaan dari Sore. Ia memilih jalannya sendiri.

Di titik ini saya bisa merasa, Sore bukan manusia biasa. Ia adalah personifikasi dari waktu itu sendiri. Sore tahu semuanya. Tentang Jonathan. Tentang kesalahannya. Tentang dendam dan luka yang masih disimpan. Dan di titik itu, saya merasa ditampar halus.

Sore adalah waktu yang juga telah menyaksikan kita melakukan kebodohan yang sama, berkali-kali. Saya sempat mbrebes mili. Film ini bukan hanya cerita, tapi cermin yang memaksa saya untuk melihat lebih dalam ke dalam diri sendiri. Film yang kita tidak perlu 100% memahami, cukup merasakan dan memaknai.

Sore pun “mati.” Dan saya sadar, kadang kita pun begitu. Kita tidak selalu setia pada hal-hal yang baik, bahkan saat hal itu datang untuk menyelamatkan.

Namun waktu tak pernah benar-benar pergi. Sore hidup lagi. Berkali-kali. Dan tetap memilih Jonathan. Seperti waktu yang terus datang, meski kita kerap menyia-nyiakannya.

-

Waktu berjalan sampai akhirnya Jonathan berubah. Bukan karena dipaksa, tapi karena ia memilih untuk memaafkan, meninggalkan luka, dan membuka diri untuk harapan baru. Dan di momen itu, waktu pun terasa berpihak padanya.

Lalu Jonathan kembali terbangun, sendiri. Tanpa Sore, namun dipenuhi rindu.

Dan saya percaya, rindu seperti itu adalah bukti bahwa sesuatu pernah benar-benar hidup dalam hati kita.

-

Film ini terasa makin dalam saat menampilkan fenomena aurora merah dan hijau. Banyak teori yang sudah membahasnya. Tapi bagi saya, yang paling terasa adalah satu hal:

Air mata di dimensi Sore sampai kepada dimensi Jonathan. Dan sebaliknya.

Seolah ruang dan waktu pun tak bisa membendung apa yang benar-benar tulus.

-

Pada akhirnya, Jonathan kembali ke Jakarta. Bagi saya, itu bukan sekadar pulang. Tapi pertanda bahwa ia telah selesai dengan luka dalam dirinya.

Dan saat ia memilih menyayangi dirinya sendiri, melalui pameran foto favoritnya di kutub tempat ia pernah terluka. Ia pun kembali berjodoh dengan Sore. Sang Waktu.

Karena ternyata, ketika kita benar-benar berdamai dan mencintai diri sendiri, waktu pun bersedia kembali merangkul kita.

-

Pilihan lagu yang mengiringi film ini pun memperkuat story line yang ingin diangkat:

  1. “Forget Jakarta”  jadi awal dari pengasingan dan kepergian.
  2. “Gaze”  lagu lirih dari Adhitia Sofyan yang menggambarkan konflik batin yang tak kunjung selesai.
  3. “Pancarona” dari Barasuara, bak ledakan emosi yang tidak bisa ditahan lagi.
  4. “Terbuang Dalam Waktu” – Barasuara menyuarakan rasa yang sempat hilang arah.
  5. “Hingga Ujung Waktu” – Sheila on 7 mengajak kita percaya bahwa ada cinta yang tetap bertahan, bahkan saat waktu terus berjalan.

Dua lagu pemungkas di atas menjadi penegas bahwa Sore bukan sekadar fiksi romantis, tapi kisah kita semua bersama waktu:

-

Buat saya, Sore adalah pengingat bahwa waktu bukan hanya bergerak, tapi juga merasa. Dan kadang, waktu itu ibarat cinta yang diam-diam menunggu kita untuk sembuh dan pulang.

Seperti kutipan yang selalu diulang dalam film Sore 

“Tahu nggak kenapa senja itu menyenangkan? Kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka, tapi langit selalu menerima senja apa adanya.”

  • 0 Comments

I am here

o

About me

a


Rio Pribadi

"Laci Inspirasi adalah hal sederhana yang membuatmu tetap nyaman dan bersyukur”


Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • Twitter

recent posts

Label

Laci Bandungan Laci Kerja Laci Puisi Laci Renungan Laci Studi

Arsip Blog

  • November 2025 (3)
  • September 2025 (2)
  • Agustus 2025 (1)
  • Juli 2025 (1)
  • Juni 2025 (1)
  • Desember 2024 (5)
  • November 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Januari 2024 (2)
  • Oktober 2023 (2)
  • April 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (2)
  • November 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (1)
  • Mei 2021 (2)
  • Februari 2021 (1)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (7)

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Rio Pribadi
Lihat profil lengkapku

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top