Laci Inspirasi

  • Laci Bandungan
  • Laci Kerja
  • Laci Puisi
  • Laci Renungan
  • Laci Studi

 Penghujan Semarang





Semarang dan penghujan yang tak pernah lunas

Menyimpan rindu di tiap genang yang tak lekas surut

Setiap tetesnya pernah kupinjam menggenapi rasa

Namun selalu tumpah sebelum sempat kubawa pulang


Apa-apa yang dirimu melekat padaku

Seperti bau hujan yang enggan hilang dari jaket lusuhku

Bisa apa penghujan tanpa kenangan?

Ia cuma dingin yang lewat tanpa sempat mengetuk pintu


Kota ini diam-diam menyimpan suaramu di sela angin

Bisu biru riuh gemuruh, menari dalam dadaku yang hening

Apa jadinya mendung tanpa senandung?

Hampa langit menganga, tangis kehilangan lara


- Rio Pribadi -

  • 0 Comments

 Jalanan Basah Oktober





Jalanan basah di bulan Oktober

Tak ada gugur, semua kehilangan jingga

Hangatmu yang sekadar musim sementara

Rindu tak jelas pemiliknya


Jalanan basah di bulan Oktober

Bara tersesat menuju perapian

Mata jendela memandangi awan

Sesal waktu yang menjelma nyaman


Jalanan basah di bulan Oktober

Musim yang tak sempat dimulai

Syair yang tak menemukan usai


- Rio Pribadi -

  • 0 Comments

 Jam Dinding





Tak ada jam dinding di kamarku

Nyaman usah mengenal waktu

Ia terang tanpa padam

Tatap tiada pejam


Tak ada jam dinding di kamarku

Biar malam hanyut tanpa rencana

Pagi pun tak perlu tiba-tiba

Semua menepati waktunya


Tak ada jam dinding di kamarku

Saat angin tiba, tutup jendela

Biar sepasang selimut saling menghangatkan

Rindu sudah enggan ditahan


- Rio Pribadi -

  • 0 Comments

 


Mari jatuh cinta di lain hari

Bukan kemarin, jangan saat ini

Sampai lelah kita menolaknya

Sampai lemah kita tanpanya


Mari jatuh cinta di lain hari

Dalam ramai maupun sepi

Hingga renta kita merawatnya

Hingga senja kita di dalamnya


Mari jatuh cinta di lain hari

Hidup bersama atau sendiri-sendiri

Biar rindu menemukan jalannya

Biar Tuhan mengatur ceritanya


- Rio Pribadi -

  • 0 Comments

 



September menetes di atap renta

Bawa sisa sunyi musim sebelumnya

Sembunyi ia di balik langit redup

Mengejek wajah jendela setengah tertutup


Di pikiranmu gugur dedaunan luka 

serupa pesan tak sempat terbaca

musimku hanya tanah basah beraroma pilu 

meraung lirih bak kehilangan malu


Kaca berembun mengeja namamu fana 

huruf-huruf luntur, hanyut ke jurang suara

tak ada yang tinggal selain jejak

Mengerami kenang yang berwujud detak


Mendung Semarang, sebuah cermin berlapis debu

kutatap retaknya yang berhias sisa wajahmu

kilat berlari, guntur memecah hening

Lidah api bakar rerinduan kering


Gugur musim adalah doa yang terbelah

Renung yang perlahan kulepaskan pasrah

agar tidak hancur di genggamanku sendiri

agar abadi, meski tak pernah kunamai


- Rio Pribadi -


  • 0 Comments

The Summer SPACE 2025 : Urgensi Internasionalisasi dan Refleksi Reputasi Global

Agustus 2025 menjadi bulan yang istimewa bagi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Selama dua pekan, 4–16 Agustus 2025, kampus ini menjadi rumah bagi mahasiswa dari berbagai penjuru dunia melalui program unggulan The Summer SPACE 2025, yang mengusung tema “Explore Semarang, Empower Indonesia.”

Lebih dari sekadar agenda rutin, program ini adalah cermin komitmen UNISSULA dalam membangun reputasi global, menguatkan jejaring internasional, dan memperkenalkan nilai-nilai luhur Islam serta kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.




Peserta dari Jaringan Global UMAP

Tahun ini, The Summer SPACE 2025 diikuti oleh 17 mahasiswa internasional yang seluruhnya berasal dari universitas di bawah jejaring University Mobility in Asia and the Pacific (UMAP). Mereka datang dari Filipina (5 orang), Kanada (4 orang), Malaysia (3 orang), Taiwan (2 orang), Thailand (1 orang), Vietnam (1 orang), dan Prancis (1 orang), didampingi oleh 1 dosen dari Filipina. Adapun 17 mahasiswa internasional tersebut merupakan peserta terpilih dari total 81 pendaftar internasional yang berminat menjadi peserta.

UNISSULA merupakan anggota aktif UMAP dan memiliki rekam jejak kuat di panggung internasional. Pada 2023, UNISSULA sukses menjadi co-host Winter Camp UMAP, sebuah kegiatan yang mendapat apresiasi tinggi dan melambungkan reputasi universitas. 

Pada tahun ini, tingginya antusiasme pendaftar dan kehadiran 4 peserta dari Kanada serta 1 peserta dari Prancis menjadi bukti pengakuan atas kualitas global UNISSULA, bahkan di luar kawasan Asia. Hal ini tentunya selaras dengan tagline UNISSULA sebagai A World Class Islamic University.


Rangkaian Kegiatan

Selama dua minggu, para peserta menjalani pembelajaran komprehensif terkait Sustainable Development Goals (SDGs) melalui seminar, kunjungan lapangan (field visit), dan pengabdian masyarakat (community service). Program juga mencakup kegiatan budaya seperti pembelajaran bahasa, aktivitas seni, serta kunjungan ke berbagai destinasi bersejarah di Kota Semarang dan sekitarnya.

Pengalaman peserta tidak hanya terbatas pada kelas dan materi, tetapi juga pada interaksi langsung dengan masyarakat, mengenal kehidupan kampus UNISSULA, dan memahami kekayaan budaya lokal.


Kolaborasi Lintas Fakultas

The Summer SPACE 2025 menjadi program yang inklusif karena menggandeng seluruh fakultas di UNISSULA. Bentuk keterlibatan meliputi pengiriman mahasiswa sebagai perwakilan peserta maupun student buddy, pengiriman dosen sebagai pembicara seminar, pengiriman dosen sebagai instruktur BIPA, penyediaan fasilitas pendukung, hingga kerja sama dalam agenda community service. Inklusivitas ini menunjukkan bahwa internasionalisasi bukan hanya domain satu unit, tetapi gerakan bersama seluruh civitas akademika.


Kemitraan Strategis dengan Pihak Eksternal

Program ini juga melibatkan berbagai mitra dan rekanan luar UNISSULA, di antaranya:

  • Daegu Health College, Korea Selatan: menghadirkan satu pembicara dalam sesi seminar.

  • Dinas Kesehatan Kota Semarang: menjadi mitra dalam kunjungan field visit.

  • LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah: mengirimkan satu narasumber seminar.

  • SD Khalifa IMS Semarang: lokasi community service untuk SDG 3.

  • SD Islam Sultan Agung 1, SMP Islam Sultan Agung 3, dan SMA Negeri 2 Semarang: lokasi community service untuk SDG 4.

Kolaborasi ini memperkaya pengalaman peserta, sekaligus memperluas jaringan kemitraan UNISSULA di tingkat lokal, nasional, dan internasional.


Dukungan Penuh Pimpinan

Dalam perspektif kami, visi internasionalisasi Rektor UNISSULA didasari keyakinan bahwa menjadi universitas kelas internasional adalah sebuah keharusan, bukan lagi pilihan. Internasionalisasi bukan sekadar jargon, tetapi merupakan investasi jangka panjang dan arah masa depan universitas kita tercinta. Dukungan pimpinan yang konsisten, terbukti menjadi landasan kuat bagi setiap langkah internasionalisasi yang dilakukan.

Perlu diingat bahwa UNISSULA saat ini juga memiliki mahasiswa asing reguler bergelar dari berbagai negara seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, Timor Leste, Korea Selatan, Pakistan, Bangladesh, Maroko, Aljazair, Yaman, Mesir, Palestina, Somalia, Australia, hingga Gambia. Keberadaan mereka menjadi modal penting dalam membangun atmosfer internasional di kampus Birrul Walidain ini.

Sepanjang tahun 2025, UNISSULA juga telah banyak menerima kunjungan dosen-dosen asing dari mancanegara yang datang untuk berkegiatan mengajar, berbagi pengalaman, atau melakukan kolaborasi riset. Fakta ini menjadi bukti sekaligus kepastian bahwa setiap mahasiswa yang berkuliah di UNISSULA akan mendapatkan paparan dimensi internasionalisasi.


Kolaborasi Antarbudaya

Salah satu aspek yang paling berkesan dari program ini adalah adanya Collaborative Group Project. Tugas kelompok yang diberikan mendorong adanya kolaborasi antara mahasiswa UNISSULA dan peserta internasional, memupuk pemahaman lintas budaya, dan membangun keterampilan komunikasi global.

Bagi mahasiswa UNISSULA, ini adalah kesempatan untuk belajar langsung dari rekan-rekan internasional. Bagi peserta dari luar negeri, ini adalah momen mengenal keramahan dan nilai gotong royong khas Indonesia.


Refleksi dan Harapan

The Summer SPACE 2025 menjadi penanda bahwa internasionalisasi adalah proses membangun hubungan, menanamkan kesan, dan membuka pintu kesempatan masa depan. Setiap peserta yang pulang membawa cerita adalah duta kecil yang membawa nama UNISSULA ke negaranya masing-masing.

Namun demikian, kegiatan ini tentu masih membutuhkan evaluasi di berbagai sisi agar dapat menjadi lebih baik di masa mendatang. Semua stakeholder di UNISSULA seyogyanya dapat mulai menyadari bahwa internasionalisasi adalah salah satu kekuatan utama kita. Hal ini bisa menjadi kebanggaan sekaligus pengingat untuk senantiasa berbenah serta terus mempersiapkan diri.

Dengan terlaksananya program ini, diharapkan seluruh civitas akademika di UNISSULA semakin percaya diri mengembangkan agenda internasionalisasi. Langkah ini sejalan dengan visi UNISSULA menjadi A World Class Islamic University. Sebuah universitas yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi pusat nilai-nilai luhur yang diakui dunia.


Kaligawe, 13 Agustus 2025

Rio Pribadi

  • 0 Comments

Kemarin habis nonton film Sore : Istri dari Masa Depan. Baguuuusss banget. Jadi ketrigger mau bikin review filmnya. Disclaimer : ulasan ini berdasarkan pengalaman pribadi, jadi ya pasti subyektif.

Berbekal note-note kecil, penghayatan, dan kolaborasi penulisan dengan AI. Here we go!



Sore: tentang waktu, pilihan, dan renungan batin

Ada film yang nggak cuma enak ditonton, tapi juga tinggal lama di hati. 

“Sore: Istri dari Masa Depan” bagi saya bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah perjalanan jiwa, tentang ruang, waktu, dan bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri.

Jonathan, tokoh utama dalam film ini, bertemu dengan Sore. Sosok perempuan yang misterius, tapi terasa dekat. Ia muncul setelah ulang tahun Jonathan, membawa sebuah pesan yang hanya bisa dimengerti jika kita benar-benar mau mendengarkan.

-

Babak awal cerita dimulai dengan gambaran kebahagiaan saat Jonathan dan Sore damai bersama. Namun, seperti banyak dari kita yang suka keras kepala, Jonathan mengingkari permintaan dari Sore. Ia memilih jalannya sendiri.

Di titik ini saya bisa merasa, Sore bukan manusia biasa. Ia adalah personifikasi dari waktu itu sendiri. Sore tahu semuanya. Tentang Jonathan. Tentang kesalahannya. Tentang dendam dan luka yang masih disimpan. Dan di titik itu, saya merasa ditampar halus.

Sore adalah waktu yang juga telah menyaksikan kita melakukan kebodohan yang sama, berkali-kali. Saya sempat mbrebes mili. Film ini bukan hanya cerita, tapi cermin yang memaksa saya untuk melihat lebih dalam ke dalam diri sendiri. Film yang kita tidak perlu 100% memahami, cukup merasakan dan memaknai.

Sore pun “mati.” Dan saya sadar, kadang kita pun begitu. Kita tidak selalu setia pada hal-hal yang baik, bahkan saat hal itu datang untuk menyelamatkan.

Namun waktu tak pernah benar-benar pergi. Sore hidup lagi. Berkali-kali. Dan tetap memilih Jonathan. Seperti waktu yang terus datang, meski kita kerap menyia-nyiakannya.

-

Waktu berjalan sampai akhirnya Jonathan berubah. Bukan karena dipaksa, tapi karena ia memilih untuk memaafkan, meninggalkan luka, dan membuka diri untuk harapan baru. Dan di momen itu, waktu pun terasa berpihak padanya.

Lalu Jonathan kembali terbangun, sendiri. Tanpa Sore, namun dipenuhi rindu.

Dan saya percaya, rindu seperti itu adalah bukti bahwa sesuatu pernah benar-benar hidup dalam hati kita.

-

Film ini terasa makin dalam saat menampilkan fenomena aurora merah dan hijau. Banyak teori yang sudah membahasnya. Tapi bagi saya, yang paling terasa adalah satu hal:

Air mata di dimensi Sore sampai kepada dimensi Jonathan. Dan sebaliknya.

Seolah ruang dan waktu pun tak bisa membendung apa yang benar-benar tulus.

-

Pada akhirnya, Jonathan kembali ke Jakarta. Bagi saya, itu bukan sekadar pulang. Tapi pertanda bahwa ia telah selesai dengan luka dalam dirinya.

Dan saat ia memilih menyayangi dirinya sendiri, melalui pameran foto favoritnya di kutub tempat ia pernah terluka. Ia pun kembali berjodoh dengan Sore. Sang Waktu.

Karena ternyata, ketika kita benar-benar berdamai dan mencintai diri sendiri, waktu pun bersedia kembali merangkul kita.

-

Pilihan lagu yang mengiringi film ini pun memperkuat story line yang ingin diangkat:

  1. “Forget Jakarta”  jadi awal dari pengasingan dan kepergian.
  2. “Gaze”  lagu lirih dari Adhitia Sofyan yang menggambarkan konflik batin yang tak kunjung selesai.
  3. “Pancarona” dari Barasuara, bak ledakan emosi yang tidak bisa ditahan lagi.
  4. “Terbuang Dalam Waktu” – Barasuara menyuarakan rasa yang sempat hilang arah.
  5. “Hingga Ujung Waktu” – Sheila on 7 mengajak kita percaya bahwa ada cinta yang tetap bertahan, bahkan saat waktu terus berjalan.

Dua lagu pemungkas di atas menjadi penegas bahwa Sore bukan sekadar fiksi romantis, tapi kisah kita semua bersama waktu:

-

Buat saya, Sore adalah pengingat bahwa waktu bukan hanya bergerak, tapi juga merasa. Dan kadang, waktu itu ibarat cinta yang diam-diam menunggu kita untuk sembuh dan pulang.

Seperti kutipan yang selalu diulang dalam film Sore 

“Tahu nggak kenapa senja itu menyenangkan? Kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka, tapi langit selalu menerima senja apa adanya.”

  • 0 Comments

 Separuh Jalan


Di separuh genap musim-musim,

waktu berjalan tanpa suara,

meninggalkan jejak yang tak bisa ditanya.


Cinta barangkali bukan soal tiba,

melainkan perihal terus berjalan

meski arah kehilangan nama.


perjalanan pun, akhirnya,

bukan soal sampai,

tetapi perkara menjadi.


- Rio Pribadi -

  • 0 Comments

 



Semesta Semestinya


Hujan yang salah musim tak pernah keliru
Ia pembawa nyaman

Panas yang tak tepat waktu kadang dirindu
Ia penyemat hangat

Pun dirimu
Yang selalu indah walau tak pada saatnya, 
Yang memantik rasa tak seharusnya,
Yang menuntut semesta tak semestinya

Pulanglah pada kisahmu sendiri
Kupu-kupu pagi akan selalu menemukan hati


~ Rio Pribadi ~

  • 0 Comments

 


Kepada Senyum Pagi


Tiada yang lebih cerah dari mentarimu,
lebih menyegarkan dari ceriamu,
lekat terbawa senyum itu

 

Hadirmu jiwa bagi arti,
Kala waktu dekat melintasi.
Semua ada, karena semesta menuntunnya.
Kita tiada, sebab fana sejatinya.

 

Bila waktu lambat berputar,
Atau sedih tiba-tiba datang,
Ingat sajak ini dan tersenyumlah kembali.
Malam berganti, ceriamu pagi dinanti.


~ RLP ~


  • 0 Comments

 


Cintailah Saja


Hujan ini terlalu indah untuk dilewatkan tanpa apa-apa, 
terlalu damai untuk kau ributkan datangnya
Cintailah saja


Ia rela diejek kemarau hanya untuk menemuimu 
menuntaskan rindu pada bau tanah

Cintailah saja


Malam-malam heroikmu juga perlu istirahat 
Biar si melankolis yang ronda malam ini
Sudah habis Ia secangkir puisi
Cintailah saja


~ RLP ~

  • 0 Comments
Postingan Lama Beranda

I am here

o

About me

a


Rio Pribadi

"Laci Inspirasi adalah hal sederhana yang membuatmu tetap nyaman dan bersyukur”


Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • Twitter

recent posts

Label

Laci Bandungan Laci Kerja Laci Puisi Laci Renungan Laci Studi

Arsip Blog

  • November 2025 (3)
  • September 2025 (2)
  • Agustus 2025 (1)
  • Juli 2025 (1)
  • Juni 2025 (1)
  • Desember 2024 (5)
  • November 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Januari 2024 (2)
  • Oktober 2023 (2)
  • April 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (2)
  • November 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (1)
  • Mei 2021 (2)
  • Februari 2021 (1)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (7)

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Rio Pribadi
Lihat profil lengkapku

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top