Laci Inspirasi

  • Laci Bandungan
  • Laci Kerja
  • Laci Puisi
  • Laci Renungan
  • Laci Studi


Selamat ulang tahun

Sesekali bercerminlah di mataku bila ingin melihat cinta.
Ia mungkin sederhana tapi selalu memenuhi ruang tenang dan nyaman.
Ia mungkin tak sempurna, tapi adalah satu-satunya dan lebih jauh dari selamanya.

Selamat ulang tahun, Sayang.
Kuatlah langkah, luaslah pikir, dan dalamlah rasa.
Agar kata cinta selalu menemukan induknya.
  • 0 Comments
Pekalongan, 12 Desember 2018


Perjalanan Duka

Salah satu resiko merantau adalah harus siap dengan semua jenis perjalanan. Perjalanan tersebut tidak selalu menyenangkan termasuk perjalanan yang tidak pernah kita kehendaki adanya. Perjalanan duka, perjalanan untuk bertakziah pada keluarga atau kerabat yang meninggal dunia.

Malam kemarin kakak sepupu kami meninggal dunia (Allahu yarham) sehingga pagi tadi saya pulang dengan kereta paling awal. Selama perjalanan, saya merenungi beberapa perjalanan sejenis yang pernah saya lalui.

Ibu dulu meninggal ketika saya masih kuliah. Waktu itu dini hari menjelang sahur Ramadan, saya mendapat kabar kalau beliau meninggal. Tanpa pikir panjang, langsung saya tancap gas dari Semarang menuju Pekalongan dalam keadaan belum sempat bersahur. Saya menangis sejadi-jadinya sepanjang perjalanan.

Berbeda lagi ketika Ayah meninggal dunia. Waktu itu, Minggu sore saya pamit ke beliau untuk berangkat ke Semarang. Beliau yang memang sedang dalam masa pemulihan belum terlihat fit namun dapat berkomunikasi dengan lancar. Seperti biasa, beliau selalu memberi do'a dan wejangan sebelum anaknya berangkat merantau.

Qodarullah, Senin siang saya ditelfon dari rumah bahwa Ayah meninggal dunia. Remuk redam perasaan saya waktu itu, ternyata pamitan kemarin adalah yang terakhir dengan beliau. Saya langsung izin ke atasan untuk pulang ke Pekalongan. Terbersit pikiran untuk pulang naik motor, namun apa daya perasaan tidak kuat dan larangan dari keluarga membuat saya mengurungkan niat saya naik motor. Saya putuskan untuk naik kereta api. Alhamdulillah, saya dapat tiket kereta api dengan go show dan langsung berangkat. Sepanjang perjalanan saya coba menahan tangis dan tak henti-hentinya berdo'a.

---

Akhirnya saya menyadari bahwa hidup, mati, jodoh, rizki dan segalanya telah diatur oleh Allah Swt. Kita hanya bisa berprasangka baik dan menjalani setiap takdir-Nya. Bisa saja kita yang masih muda, sehat, bahagia, dan punya rencana panjang ini sebentar lagi dipanggil pulang pada-Nya. Siap tidak siap, kita harus terus bersiap-siap. Semoga kita semua senantiasa dapat memetik pelajaran dari setiap kejadian.

Salam.






  • 0 Comments

Malam semesta

Di antara malam dan semesta, 
ku tulis pesan untuk takdir yang memilihmu hanya.

Terima kasih telah menghapus aku yang tak terangkai, kapital, dan cetak tebal.
Entah menjadi vokal atau konsonan, aku hanya ingin bersamamu merangkai susunan. 
Menuntaskan penantian.

Di antara malam dan semesta,
izinkan mereka membacakan cerita kita.

- Rio Pribadi -





  • 0 Comments


Tak puisi

Baru saja kau sirami api tapi tak kau buang baranya
Baru saja kau dihampiri sepi tapi tak kau ulang gemanya.

Hari-hari tak berpuisi bak sore tanpa senja untuk merenung, atau hujan untuk termenung.
Lukisan sekadar warna, tak bernyawa dan tanpa warta.

Sisakan kesadaran untuk larut di pikiran,
sebelum kata-kata padam tak terpuisikan.

-Rio Pribadi-

  • 0 Comments

Senja di tatap matamu

Pernah kulihat senja di tatap matamu, 
berbincang mesra dengan masa depan yang perlahan terbahasakan
Tanpa menyangka luka yang tertunda itu adalah senyuman

Detik yang mulai jatuh kudapati memanggil-manggil namamu
Wahai pemilik sebelah tangan yang memilih berhenti menepuk -
yang tak buta aksara namun gagap mengeja setia. Apa kabar?

Ingin kulihat kembali senja di tatap matamu
Membacakan rindu yang terpuisikan, kenangan yang belum sempat terbenam

~Rio Pribadi~


  • 0 Comments





Musim apa


Tiada yang tahu di musim apa kita ini
Penghujan yang sekadar menitikkan rindu, atau kemarau yang hanya memancarkan kenang?

Di balik punggung mendung, anak hujan mengintip kecil.

Rimba api dan nyala puisi belum juga membuatnya berani.

Ia akan datang di saat yang tepat, membesar di waktu yang khidmat.

Kupunguti kembali harap yang kadung terpendar,
Kumasukkan ke dalam saku yang tak berpintu.

Tergopoh kembali memunguti,
tiada yang tahu di musim apa kita ini.

~ Rio Pribadi ~
  • 0 Comments





Hujan turun hari ini

Tak bisakah kau membaca pesan penghujan lewat tanah yang mulai beraroma atau pada sayap-sayap laron kecil yang patah?

Ia akan datang. Ia pasti datang

Biarkan hujan turun hari ini,
Biarkan ia mencuci waktu yang ternoda kegelisahan-kegelisahan tanpa alasan, janji yang terucap tanpa pasti, ataupun rindu yang tak berujung temu.

Biarkan hujan turun hari ini.

Tak perlu ia menunggu lagi.

~ Rio Pribadi ~
  • 0 Comments





Temukan aku

Jangan cari aku di antara panjang jalanan dan kegelisahan pagi, aku tak di situ.

Bukan pula di bawah sendu matamu sisa mimpi-mimpi yang menetes berjatuhan

Tanyakan pada sungging di antara telinga

Temukan aku di tetes hujan November yang pertama

~ RLP ~
  • 0 Comments





Kemana perginya penghujan


Kemana perginya penghujan?
Padahal kepada-nya ku titipkan rindu sisa musim lalu

Kemana perginya penghujan?
Ia yang setia membasahi dedaunan, rumput ilalang, hingga kenangan yang hampir mengering

Kemana perginya penghujan?
Teman setia si gadis riang yang melukis pelangi di telapak tangannya

~ RLP ~
  • 0 Comments





Cumbui aku seperti hujan


Cumbui aku seperti hujan
usah tunjukkan dalam keramaian
Biarkan payung tetap di antara
jauh tegur nyaring membelantara

Cumbui aku seperti hujan
hirup aromaku dalam kesendirian
Dalam malam-mu yang diguyur sunyi
ada aku yang menumpas sepi

Cumbui aku seperti hujan
seperti kemarau dalam penantian
Bila ragu akan hadirku
Sematkan harap pada tetes rindu

~ RLP ~
  • 0 Comments





Aku dan jejak-jejak


Aku dan jejak-jejak berbagi peran

Aku melangkah ke tujuan, mereka yang meninggalkan pesan

Aku dan jejak-jejak berbagi peran

Berbekal rindu, sunyi di perjalanan

~ RLP ~
  • 0 Comments





Antara Karangpandan dan Surakarta


Antara Karangpandan dan Surakarta


Bahagia dan syukur tanpa hingga

Aku dan dirimu terjarak satu yang dua


Antara Karangpandan dan Surakarta

Sedih sepi telah tiada

~ RLP ~
  • 1 Comments







Sepasang kaus kaki merah 


Sepasang kaus kaki merah, kita rawat baik-baik

Yang kanan adalah do’a, yang kiri adalah harapan

Di dalamnya ada langkah kecil yang baru memulai perjalanan

~RLP~
  • 0 Comments





Lupa cermin

Melihatmu dengan pekerjaan membuatku sibuk tak punya peran

Aku mencari barangkali ada sisa perhatian 

Terlalu kesal sampai lupa menyadari,

hanya ada cermin di ruangan ini 

~ RLP ~
  • 0 Comments

I am here

o

About me

a


Rio Pribadi

"Laci Inspirasi adalah hal sederhana yang membuatmu tetap nyaman dan bersyukur”


Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • Twitter

recent posts

Label

Laci Bandungan Laci Kerja Laci Puisi Laci Renungan Laci Studi

Arsip Blog

  • November 2025 (3)
  • September 2025 (2)
  • Agustus 2025 (1)
  • Juli 2025 (1)
  • Juni 2025 (1)
  • Desember 2024 (5)
  • November 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Januari 2024 (2)
  • Oktober 2023 (2)
  • April 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (2)
  • November 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (1)
  • Mei 2021 (2)
  • Februari 2021 (1)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (7)

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Rio Pribadi
Lihat profil lengkapku

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top