Gugur Musim di Langit Semarang

 



September menetes di atap renta

Bawa sisa sunyi musim sebelumnya

Sembunyi ia di balik langit redup

Mengejek wajah jendela setengah tertutup


Di pikiranmu gugur dedaunan luka 

serupa pesan tak sempat terbaca

musimku hanya tanah basah beraroma pilu 

meraung lirih bak kehilangan malu


Kaca berembun mengeja namamu fana 

huruf-huruf luntur, hanyut ke jurang suara

tak ada yang tinggal selain jejak

Mengerami kenang yang berwujud detak


Mendung Semarang, sebuah cermin berlapis debu

kutatap retaknya yang berhias sisa wajahmu

kilat berlari, guntur memecah hening

Lidah api bakar rerinduan kering


Gugur musim adalah doa yang terbelah

Renung yang perlahan kulepaskan pasrah

agar tidak hancur di genggamanku sendiri

agar abadi, meski tak pernah kunamai


- Rio Pribadi -


You Might Also Like

0 komentar