Gugur Musim di Langit Semarang
Bawa sisa sunyi musim sebelumnya
Sembunyi ia di balik langit redup
Mengejek wajah jendela setengah tertutup
Di pikiranmu gugur dedaunan luka
serupa pesan tak sempat terbaca
musimku hanya tanah basah beraroma pilu
meraung lirih bak kehilangan malu
Kaca berembun mengeja namamu fana
huruf-huruf luntur, hanyut ke jurang suara
tak ada yang tinggal selain jejak
Mengerami kenang yang berwujud detak
Mendung Semarang, sebuah cermin berlapis debu
kutatap retaknya yang berhias sisa wajahmu
kilat berlari, guntur memecah hening
Lidah api bakar rerinduan kering
Gugur musim adalah doa yang terbelah
Renung yang perlahan kulepaskan pasrah
agar tidak hancur di genggamanku sendiri
agar abadi, meski tak pernah kunamai
- Rio Pribadi -


0 komentar