Laci Inspirasi

  • Laci Bandungan
  • Laci Kerja
  • Laci Puisi
  • Laci Renungan
  • Laci Studi

The Summer SPACE 2025 : Urgensi Internasionalisasi dan Refleksi Reputasi Global

Agustus 2025 menjadi bulan yang istimewa bagi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Selama dua pekan, 4–16 Agustus 2025, kampus ini menjadi rumah bagi mahasiswa dari berbagai penjuru dunia melalui program unggulan The Summer SPACE 2025, yang mengusung tema “Explore Semarang, Empower Indonesia.”

Lebih dari sekadar agenda rutin, program ini adalah cermin komitmen UNISSULA dalam membangun reputasi global, menguatkan jejaring internasional, dan memperkenalkan nilai-nilai luhur Islam serta kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.




Peserta dari Jaringan Global UMAP

Tahun ini, The Summer SPACE 2025 diikuti oleh 17 mahasiswa internasional yang seluruhnya berasal dari universitas di bawah jejaring University Mobility in Asia and the Pacific (UMAP). Mereka datang dari Filipina (5 orang), Kanada (4 orang), Malaysia (3 orang), Taiwan (2 orang), Thailand (1 orang), Vietnam (1 orang), dan Prancis (1 orang), didampingi oleh 1 dosen dari Filipina. Adapun 17 mahasiswa internasional tersebut merupakan peserta terpilih dari total 81 pendaftar internasional yang berminat menjadi peserta.

UNISSULA merupakan anggota aktif UMAP dan memiliki rekam jejak kuat di panggung internasional. Pada 2023, UNISSULA sukses menjadi co-host Winter Camp UMAP, sebuah kegiatan yang mendapat apresiasi tinggi dan melambungkan reputasi universitas. 

Pada tahun ini, tingginya antusiasme pendaftar dan kehadiran 4 peserta dari Kanada serta 1 peserta dari Prancis menjadi bukti pengakuan atas kualitas global UNISSULA, bahkan di luar kawasan Asia. Hal ini tentunya selaras dengan tagline UNISSULA sebagai A World Class Islamic University.


Rangkaian Kegiatan

Selama dua minggu, para peserta menjalani pembelajaran komprehensif terkait Sustainable Development Goals (SDGs) melalui seminar, kunjungan lapangan (field visit), dan pengabdian masyarakat (community service). Program juga mencakup kegiatan budaya seperti pembelajaran bahasa, aktivitas seni, serta kunjungan ke berbagai destinasi bersejarah di Kota Semarang dan sekitarnya.

Pengalaman peserta tidak hanya terbatas pada kelas dan materi, tetapi juga pada interaksi langsung dengan masyarakat, mengenal kehidupan kampus UNISSULA, dan memahami kekayaan budaya lokal.


Kolaborasi Lintas Fakultas

The Summer SPACE 2025 menjadi program yang inklusif karena menggandeng seluruh fakultas di UNISSULA. Bentuk keterlibatan meliputi pengiriman mahasiswa sebagai perwakilan peserta maupun student buddy, pengiriman dosen sebagai pembicara seminar, pengiriman dosen sebagai instruktur BIPA, penyediaan fasilitas pendukung, hingga kerja sama dalam agenda community service. Inklusivitas ini menunjukkan bahwa internasionalisasi bukan hanya domain satu unit, tetapi gerakan bersama seluruh civitas akademika.


Kemitraan Strategis dengan Pihak Eksternal

Program ini juga melibatkan berbagai mitra dan rekanan luar UNISSULA, di antaranya:

  • Daegu Health College, Korea Selatan: menghadirkan satu pembicara dalam sesi seminar.

  • Dinas Kesehatan Kota Semarang: menjadi mitra dalam kunjungan field visit.

  • LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah: mengirimkan satu narasumber seminar.

  • SD Khalifa IMS Semarang: lokasi community service untuk SDG 3.

  • SD Islam Sultan Agung 1, SMP Islam Sultan Agung 3, dan SMA Negeri 2 Semarang: lokasi community service untuk SDG 4.

Kolaborasi ini memperkaya pengalaman peserta, sekaligus memperluas jaringan kemitraan UNISSULA di tingkat lokal, nasional, dan internasional.


Dukungan Penuh Pimpinan

Dalam perspektif kami, visi internasionalisasi Rektor UNISSULA didasari keyakinan bahwa menjadi universitas kelas internasional adalah sebuah keharusan, bukan lagi pilihan. Internasionalisasi bukan sekadar jargon, tetapi merupakan investasi jangka panjang dan arah masa depan universitas kita tercinta. Dukungan pimpinan yang konsisten, terbukti menjadi landasan kuat bagi setiap langkah internasionalisasi yang dilakukan.

Perlu diingat bahwa UNISSULA saat ini juga memiliki mahasiswa asing reguler bergelar dari berbagai negara seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, Timor Leste, Korea Selatan, Pakistan, Bangladesh, Maroko, Aljazair, Yaman, Mesir, Palestina, Somalia, Australia, hingga Gambia. Keberadaan mereka menjadi modal penting dalam membangun atmosfer internasional di kampus Birrul Walidain ini.

Sepanjang tahun 2025, UNISSULA juga telah banyak menerima kunjungan dosen-dosen asing dari mancanegara yang datang untuk berkegiatan mengajar, berbagi pengalaman, atau melakukan kolaborasi riset. Fakta ini menjadi bukti sekaligus kepastian bahwa setiap mahasiswa yang berkuliah di UNISSULA akan mendapatkan paparan dimensi internasionalisasi.


Kolaborasi Antarbudaya

Salah satu aspek yang paling berkesan dari program ini adalah adanya Collaborative Group Project. Tugas kelompok yang diberikan mendorong adanya kolaborasi antara mahasiswa UNISSULA dan peserta internasional, memupuk pemahaman lintas budaya, dan membangun keterampilan komunikasi global.

Bagi mahasiswa UNISSULA, ini adalah kesempatan untuk belajar langsung dari rekan-rekan internasional. Bagi peserta dari luar negeri, ini adalah momen mengenal keramahan dan nilai gotong royong khas Indonesia.


Refleksi dan Harapan

The Summer SPACE 2025 menjadi penanda bahwa internasionalisasi adalah proses membangun hubungan, menanamkan kesan, dan membuka pintu kesempatan masa depan. Setiap peserta yang pulang membawa cerita adalah duta kecil yang membawa nama UNISSULA ke negaranya masing-masing.

Namun demikian, kegiatan ini tentu masih membutuhkan evaluasi di berbagai sisi agar dapat menjadi lebih baik di masa mendatang. Semua stakeholder di UNISSULA seyogyanya dapat mulai menyadari bahwa internasionalisasi adalah salah satu kekuatan utama kita. Hal ini bisa menjadi kebanggaan sekaligus pengingat untuk senantiasa berbenah serta terus mempersiapkan diri.

Dengan terlaksananya program ini, diharapkan seluruh civitas akademika di UNISSULA semakin percaya diri mengembangkan agenda internasionalisasi. Langkah ini sejalan dengan visi UNISSULA menjadi A World Class Islamic University. Sebuah universitas yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi pusat nilai-nilai luhur yang diakui dunia.


Kaligawe, 13 Agustus 2025

Rio Pribadi

  • 0 Comments

Disclaimer: tulisan ini dibuat untuk menceritakan agenda sebulan lalu pada 30 Oktober – 4 November dalam rangka IO Staff Exchange di BINUS University, Jakarta. Hal-hal yang bersifat kelembagaan sudah saya tuangkan dalam laporan resmi, tulisan ini diniatkan untuk bercerita dari sisi personal saya. Selamat menikmati.

 

Sekitar akhir September lalu, saya agak kaget ketika tahu akan ditugaskan untuk ke Jakarta oleh kepala unit. Saya diminta menjadi delegasi dalam program pertukaran staf International Office antara UNISSULA dengan BINUS University, Jakarta. Bukannya tidak mau, tapi saya benar-benar menghindari bepergian ke Jakarta dengan tujuan apapun. Membicarakan Jakarta berarti membayangkan kota yang penuh kesemrawutan dan stres. Namun apa boleh buat, instruksi sudah ditetapkan dan kesempatan belajar di BINUS University terlalu sayang untuk dilewatkan.

Tulisan ini tidak akan berlarut-larut membahas Jakarta karena saya sudah mulai berdamai dengannya melalui puisi ini “SEPULANG JAKARTA”. Saya akan fokus kepada orang-orang dan hal-hal istimewa yang saya temui selama di BINUS University. Untuk keefektifan tulisan, BINUS University akan saya perpendek menjadi BINUS. (Mohon izin ya, Ms. Lea dan Pak Rama) 😊

---

BINUS memulai program IO Staff Exchange terlebih dahulu dengan mengirim stafnya (Ms. Mega) ke Office of International Affairs (OIA) UNISSULA sepekan sebelum saya ke Jakarta. Kedatangan Ms. Mega membuat kami belajar untuk menceritakan semua hal yang sudah dikerjakan di OIA. Lewat bercerita, kami (setidaknya saya) bisa memperbarui lagi rasa cinta dan rasa bangga kepada pekerjaan. Keduanya merupakan hal penting yang lama-lama bisa luntur bila kita tak menjaganya.

Jumat pun tiba dimana Ms. Mega harus menyelesaikan agendanya di UNISSULA untuk kembali ke BINUS. Saya harus berterima kasih kepada Ms. Mega karena sudah memberi gambaran tentang hal-hal yang akan saya temui di BINUS, termasuk kulinernya..haha


Farewell Lunch dengan Ms. Mega dan tim OIA



Minggu, 30 Oktober 2022 saya sudah tiba di Stasiun Pasar Senen Jakarta. Pagi itu saya dijemput oleh Tiffany, mahasiswa volunteer asal Semarang yang ditemani oleh Pak Tanto sebagai driver. Setelah sekitar 45 menit perjalanan, tibalah saya di BINUS Square, semacam Edupartment bagi mahasiswa BINUS yang juga memiliki fasilitas guesthouse bagi tamu. Tidak ada yang spesial di hari tersebut selain semangat yang menggebu-gebu untuk belajar kepada rekan-rekan di BINUS.

Senin pun tiba, saya berangkat ke kampus BINUS untuk belajar dan berkantor sementara di direktorat BINUS Global di kampus anggrek. Hari pertama saya awali dengan agenda campus tour didampingi Pak Mario. Saya menduga kalau Pak Mario punya bakat tersembunyi untuk jadi tour guide, dia begitu luwes menjelaskan cerita di balik setiap sudut BINUS. Caranya menyapa dan berkomunikasi dengan orang-orang di unit lain menggambarkan kapasitasnya sebagai “orang lapangan” yang sangat paham teknis. Kudos untuk Pak Mario yang insightful dan paham latar belakang BINUS. Satu yang paling membuat saya terkesan, dia paham dimana penjual gorengan yang enak dan paling murah di sekitar kampus!

Kegiatan berlanjut, saya mengikuti 2 sesi di hari itu. Sesi pertama dengan Ms. Debby terkait perkenalan BINUS secara umum dan sesi kedua tentang Inbound Student Mobility. Pada sesi kedua, saya ditemani oleh Ms. Arina dan Ms. Melisa yang sangat gamblang berbagi pengalaman dan cerita. Terima kasih Ms. Arina dan Ms. Melisa!

Oh iya, saya dan Ms. Debby akhirnya bertemu secara langsung! haha.. Kami sudah pernah kolaborasi sebelumnya secara online. Beliau ini sosok yang sangat smart dan ditakuti dihormati di sana. Terbukti, tidak ada yang berani mengumpulkan “urunan” untuk beli cemilan sore selain Ms. Debby. Hihihi.


Ms. Debby dan saya yang kompak pakai baju merah


Sebenarnya ada satu hal yang saya pribadi kurang cocok di BINUS. Ya, perihal jam kerjanya yang bisa sampai jam 6 sore. Dugaan saya sih, selesai jam segitu untuk menghindari macet jam pulang kerja. Kalau hal tersebut benar, Jakarta memang benar-benar “luar biasa”. Membandingkan hal tersebut dengan UNISSULA yang jam kerjanya berakhir jam 4 sore, membuat saya sangat bersyukur.  

 

Tulisan tentang pengalaman di BINUS akan saya bagi menjadi beberapa part. Selain memang banyak yang harus diceritakan, kenangan juga perlu waktu untuk diendapkan. Bagi saya, menulis dengan rasa rindu akan lebih memberi nyawa pada rangkaian kata-kata. 

Sampai bertemu lagi di tulisan mendatang, mari kembali menanam rindu.
  • 0 Comments


Siang tadi tak ada mendung, namun gerimis jatuh di mata kami. Semua terasa seperti biasanya kecuali kesedihan yang menganga di dada. Hari ini, ada kepulangan orang baik yang masih terus kami cari hikmah di baliknya. Obituari ini ditulis untuk mengenang kembali sosok hangatnya.

Selepas Dhuhur tadi, kami kehilangan seorang kolega, seorang yang tulus dalam bekerja. Beliau adalah Mas Dirun, pengabdi yang bertugas di pantry untuk mengelola perihal konsumsi di gedung kami. Dari jajan pasar hingga urusan makan besar, beliau jagonya. Saya menduga, dengan mata terpejam pun beliau bisa menyeduh kopi dan teh dengan rasa yang pas bagi yang meminumnya.

Dalam hal bekerja, Mas Dirun adalah karakter orang yang menjalankan amanah dengan baik. Di sebagian besar kegiatan unit kami, selalu ada nama beliau yang membantu perihal konsumsi. “Serahkan suatu urusan pada ahlinya” selalu kami amalkan dalam hal ini. Buktinya jelas, hampir 5 tahun saya bekerja di sana, belum pernah mendengar atau menemui komplain perihal makanan/minuman yang beliau sajikan.

Bukti lain kesungguhannya dalam bekerja adalah caranya berpenampilan. Cara beliau berpakaian tak pernah dibatasi oleh persepsi orang lain tentang profesinya. Sebagai seorang pengabdi yang bertugas di pantry, penampilan beliau hampir tak ada duanya dibanding semua Bapak-bapak yang bekerja di gedung kami. Saya rasa itu adalah salah satu cara beliau untuk menghormati profesinya. Kalau boleh menyimpulkan, beliau itu kombinasi antara Good Looking, Good Attitude, and Good Gentleman.

Sebagai manusia, Mas Dirun adalah sosok yang hangat dan pribadi yang menghibur. Dari pengamatan saya, beliau hobi sekali bernyanyi meng-cover lagu. Beberapa karya yang beliau bagikan di media sosial, hampir selalu menjadi penyegar timeline yang penuh dengan keruwetan dunia kerja. Lewat suara dan gaya khasnya, saya begitu yakin bahwa diam-diam banyak yang menantikan postingan karyanya.

Kini Mas Dirun sudah menyelesaikan tugasnya di dunia untuk pulang ke Yang Maha Kuasa. Sekali lagi Allah SWT menyadarkan bahwa hidup di dunia hanya sementara. Bisa jadi, kita dan orang-orang di sekitar kita yang akan pulang selanjutnya. Selamat jalan, Mas Dirun. Selamat berkumpul bersama golongan orang-orang baik dan orang-orang yang menebar manfaat.

  • 0 Comments


Beberapa waktu lalu saya telah membahas terkait kelas internasional pada tautan ini. Salah satu tantangan yang dihadapi Kelas Internasional adalah potensi ketidakadilan akses pendidikan apabila mahasiswa diharuskan membayar lebih untuk masuk kelas tersebut. Kelas Internasional tidak seharusnya hanya menjadi komoditas sebuah universitas dalam orientasi pemasukan keuangan jangka pendek. Ia harus diformulasikan sedemikian rupa hingga dapat membawa manfaat yang optimal bagi universitas. Pertanyaannya, bagaimana gambaran Kelas Internasional UNISSULA di masa depan? apa saja investasi yang harus dilakukan UNISSULA dalam membentuk Kelas Internasional?

Prinsip terpenting dalam mempersiapkan kelas internasional adalah persiapan yang matang dan tidak tergesa-gesa. Berbeda dengan program internasional yang lain, Kelas Internasional memiliki potensi ancaman Learning Loss yang tinggi apabila tidak dilakukan dengan benar dan terukur. Kelas internasional harus dijadikan investasi jangka panjang UNISSULA dalam usahanya menjadi World Class Islamic University sehingga harus ditata dan dikelola dengan baik.

Salah satu platform yang dapat menjadi gambaran Kelas Internasional UNISSULA adalah COIL (Collaborative Online International Learning). COIL, secara sederhana, adalah penggabungan kelas belajar di UNISSULA dengan kelas belajar universitas lain di luar negeri. Kedua pengajar dari dua universitas tersebut menyusun silabus bersama. Silabus tersebut akan dipakai sepanjang pembelajaran dari kelas yang digabungkan tersebut. Singkatnya, Kelas Internasional UNISSULA adalah kelas dalam bahasa Inggris yang terhubung dengan kelas lain di universitas luar negeri dimana para dosennya berkolaborasi menyusun silabus pembelajaran dan para mahasiswanya berkolaborasi dalam mengikuti pembelajaran.

...

Berdasarkan pengertian Kelas Internasional yang saya tawarkan di atas, beberapa hal yang harus dipersiapkan UNISSULA sebagai investasi jangka panjang adalah hal-hal berikut;


Aturan dan Infrastruktur

Hal mendasar ketika menyusun sebuah program adalah adanya dokumen yang memuat segala aturan dan kebijakan terkait program tersebut. Salah satu temuan dalam Laporan EMI adalah banyak universitas di Indonesia yang memiliki Kelas Internasional namun belum memiliki dokumen kebijakan dan aturan kelas tersebut. Hal tersebut dapat kita ambil pelajarannya bahwa dokumen terkait kebijakan dan aturan adalah hal mendasar yang harus dimiliki sebelum memulai program.

Setelah memiliki dokumen kebijakan dan aturan, hal yang perlu diperhatikan adalah kelengkapan infrastruktur untuk menunjang Kelas Internasional. Salah satu langkahnya adalah mengkonversi beberapa Kelas Tradisional (kelas tatap muka) menjadi Kelas Hybrid yang memungkinkan terjadinya pembelajaran luring dan daring secara bersamaan.

 

Pelatihan EMI bagi Dosen

Hal ini juga tercantum dalam temuan yang dimuat dalam Laporan EMI. Pada beberapa universitas di Indonesia, Kelas Internasional hanya didasarkan adanya dosen yang merupakan lulusan universitas luar negeri. Tanpa pernah mengikuti pelatihan yang memadai, dosen tersebut langsung ditugasi mengampu Kelas Internasional. Hal tersebut tentu harus dihindari dengan menyediakan pelatihan English as Medium of Instruction (EMI) bagi dosen yang akan diproyeksikan mengampu Kelas Internasional.

 

Pelatihan dan tes bahasa Inggris bagi mahasiswa

Mengingat potensi Learning Loss yang cukup tinggi akibat penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran, perlu adanya pelatihan dan tes bahasa Inggris yang memadai bagi mahasiswa. Lembaga tes / pengukuran kemampuan bahasa Inggris haruslah merupakan lembaga yang kredibel dan berpengalaman sehingga menghindari terjadinya salah ukur kemampuan bahasa bila dilakukan secara mandiri.

 

Mitra COIL

Karena prinsip utama COIL adalah kolaborasi, maka UNISSULA perlu memetakan mitra COIL yang tepat bagi Kelas Internasionalnya. Pertimbangan calon mitra bisa berdasarkan peringkat universitas mitra secara global ataupun semata-mata berdasarkan kedekatan hubungan para dosen yang akan melakukan COIL. Dengan membangun keberhasilan COIL, maka otomatis reputasi internasional UNISSULA juga lebih positif.

UNISSULA mempunyai potensi dan modal untuk membangun reputasi internasional yang baik serta kemanfaatan global yang luas. Pertanyaannya, kapan kita siap menuju ke sana?

  • 0 Comments


Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perguruan tinggi di Indonesia yang menawarkan kelas international (atau sering disebut international program) baik di jenjang Sarjana, Magister, dan Doktoral. Namun, sejauh ini belum ada data umum mengenai jumlah kelas internasional tersebut dalam Laporan Statistik Perguruan Tinggi yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Hal penting yang tidak bisa lepas ketika membicarakan kelas internasional adalah penggunaan bahasa Inggris (English as Medium of Instruction, selanjutnya kita singkat dengan EMI). Pada Juli 2021 lalu, lembaga British Council baru saja mengadakan acara launching laporan EMI di Indonesia. Acara tersebut juga dihadiri secara virtual oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi selaku pemangku otoritas pendidikan tinggi di Indonesia. Beberapa hal menarik tercatat dalam laporan tersebut. Sebagai informasi, pengerjaan Laporan EMI tersebut dilakukan dengan strategi Mixed-method melalui Survei daring 24 pimpinan universitas, survei daring 281 dosen yang mengajar mata kuliah dalam bahasa Inggris, Studi kasus 3 perguruan tinggi, wawancara dengan staf dan mahasiswa, wawancara dengan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dan Diskusi dengan pimpinan perguruan tinggi.

Penulis coba merangkum laporan tersebut melalui perspektif peluang dan tantangan di bawah ini.


Peluang

1) Ketika dilakukan dengan baik dan benar, kelas internasional membawa manfaat pada institusi dengan menambah prestis suatu perguruan tinggi. Pada mahasiswa, kelas internasional dapat meningkatkan kemampuan bahasa Inggris tanpa mengurangi pemahaman terhadap program studi.

2) Lebih menarik minat mahasiswa asing untuk belajar di perguruan tinggi tersebut karena tidak perlu mengikuti pembelajaran Indonesia terlebih dahulu secara wajib.

3) Poin nomor (2) berimplikasi pada meningkatnya reputasi global dan ranking perguruan tinggi yang diukur melalui jumlah mahasiswa asing. Selain itu, pemasukan melalui pembayaran mahasiswa asing sangat potensial.

4) Kelas internasional dapat menjawab tantangan standar bahasa Inggris global para lulusan kita.

 

 

Tantangan

1) Sebagai gerakan yang bersifat bottom up mandiri, belum ada aturan dan panduan nasional mengenai kelas internasional.

2) Beberapa perguruan tinggi yang telah menyelenggarakan kelas internasional tidak mempunyai dokumen kebijakan terkait kelas internasional. Hal tersebut dapat berakibat pada tidak adanya penjaminan mutu.

3) Pelaksanaan kelas internasional hanya didasarkan pada ketersediaan dosen yang mampu dan mau mengajar kelas internasional, belum menjadi gerakan bersama melalui kebijakan perguruan tinggi.

4) Tidak adanya standar kemampuan bahasa Inggris minimal bagi dosen dan mahasiswa yang terlibat kelas internasional.

5) Potensi ketidakadilan akses pendidikan dimana hanya mahasiswa yang mampu saja yang bisa masuk ke kelas internasional. Hal tersebut terjadi pada perguruan tinggi yang menerapkan biaya sangat tinggi untuk masuk kelas internasional. 

  • 0 Comments

Siang tadi kantor kami baru saja mengadakan farewell lunch, makan siang perpisahan, yang sedikit aneh. Lazimnya, jumlah personil yang dilepas pasti lebih sedikit dari yang melepas. Siang tadi berbeda. Dari 8 orang yang datang, 7 orang akan meninggalkan kantor ataupun posisinya di kantor. Sebelumnya, kantor kami terdiri atas 3 orang pimpinan, 1 staf tetap, 1 staf kontrak, dan 3 mahasiswa magang.

Farewell Lunch 7 Februari 2022

Semua berawal dari serangkaian “surat cinta” yang memberhentikan dengan hormat 3 orang pimpinan kantor secara mendadak. Menurut informasi, pemberhentian tersebut dikarenakan rencana restrukturisasi kelembagaan di institusi kami. Pemberhentian mendadak tersebut mengakibatkan kebingungan sistem dan hilangnya beberapa fungsi kewenangan, termasuk kewenangan anggaran. Akibatnya, 1 orang staf kontrak dan 3 mahasiswa magang terpaksa diberhentikan demi kesehatan finansial dan keberlanjutan kantor.

Keterkejutan dan ketidakjelasan drama awal Februari ini untungnya tidak mengaburkan fitrah kami. Bahwa kami adalah manusia, yang berhubungan dengan sesama manusia dengan penuh rasa kemanusiaan. Kami yang disatukan secara baik harus bisa menutup kebersamaan dengan baik pula. Farewell lunch tadi bukan sekadar makan siang bersama, namun sebuah pernyataan bahwa tidak ada kebersamaan yang tanpa arti. Tidak ada dedikasi yang tanpa apresiasi. Kami memilih merayakan kebersamaan, bukan menyesali perpisahan.

Seperti kata orang bijak, tiada yang pernah benar-benar siap menjalani perpisahan. Tulisan ini adalah sebuah bentuk ketidaksiapan dan penghargaan. Bahwa saya belum siap mengakhiri kerja sama tanpa menuliskan sesuatu untuk memberi penghargaan yang semestinya kepada rekan-rekan dan kolega.

 

Kepada Bu Riana dan Pak Wahyu

Terima kasih sudah menjadi kolega yang baik dan saling membantu dalam mengemban amanah pimpinan di kantor kita tercinta. Banyak hal positif yang telah dicapai bersama-sama dan patut disebut sebagai legasi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, namun kerja bersama sejak November 2018 memanglah sudah harus berakhir pada 2 Februari 2022 kemarin. Mohon maaf untuk segala salah dan keberapi-apian yang terkadang tidak pada tempatnya. Semoga sukses untuk rencana personal masing-masing. Panjang umur untuk semua cita-cita yang baik!



Kepada Anifah

Pernah bergabung sebagai mahasiswa magang dan dilepas melalui farewell lunch, hari ini serasa dejavu ya? Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bergabung kembali dengan tim ini. Ingat, pembelajar tidak pernah merasa kehilangan waktu selama yang ia lakukan adalah belajar. Terima kasih sudah melengkapi kekosongan tim saat Mbak Ema cuti, bahkan menambah kekuatan tim pada akhirnya. Mohon maaf atas semua kesalahan dalam kapasitas saya sebagai pribadi, kolega, dan pimpinan. Semoga sukses di tempat-tempat belajar dan berkarya selanjutnya.

 

Kepada Sheila, Dewi, Dini

Ini sepertinya batch magang yang paling sering ikut dinas luar. Coba kalian hitung sudah berapa kali ikut intensive camp atau acara di luar kantor. Terima kasih yang sehangat-hangatnya karena sudah memilih kantor ini sebagai tempat magang. Semoga bisa memberikan gambaran bahwa dunia kerja tidak selalu penuh dengan drama. 



Magang batch 15 ini resminya mulai 1 Januari 2022 dan harus berakhir pada 6 Februari 2022. Hanya berjalan 37 hari, rekor batch terpendek juga sepertinya. Sebagai penghargaan, batch 15 akan selalu dikenang sebagai batch spesial. Tanpa telur. Enggak pedes. Kerupuknya 3. Beli di Tiara aja. Saya mohon maaf atas semua salah dalam interaksi kita di kantor. Semoga sukses untuk studi masing-masing. 

  • 0 Comments

image by pixabay.com


DISCLAIMER : Tulisan ini hanyalah RENUNGAN PERSONAL belaka dari penulis yang baru 4 tahun bekerja di UNISSULA. Selamat membaca.

UNISSULA sebagai universitas Islam yang berusia hampir 60 tahun sudah mencapai banyak hal termasuk dalam bidang internasionalisasi. Salah satu indikator pencapaian tersebut adalah kuantitas serta kualitas mahasiswa asing yang menempuh studi di UNISSULA. 

Mahasiswa asing adalah mahasiswa UNISSULA yang berkewarganegaraan selain Indonesia dan mempunyai dokumen Izin Belajar. Dalam konteks saat ini, mahasiswa asing digolongkan menjadi 2 kategori yaitu mahasiswa asing bergelar dan non-gelar. Mahasiswa asing bergelar adalah mahasiswa asing yang terdaftar menempuh jenjang D3, S1, S2, S3, dan Profesi. Selain pada program tersebut, mahasiswa asing yang berada di UNISSULA dikategorikan sebagai mahasiswa asing non-gelar.

Sependek pengetahuan penulis, UNISSULA baru mulai menerima mahasiswa asing pada medio 2011. Pada tahun pertamanya tersebut, mahasiswa asing hanya melakukan program magang di bawah supervisi dosen UNISSULA. Kini, menilik 10 tahun perjalanan dan pasang surut penerimaan mahasiswa asing, banyak hal yang agaknya patut menjadi bahan refleksi.

 

Mengapa harus ada mahasiswa asing di UNISSULA?

Pertanyaan “mengapa” sudah selayaknya menjadi renungan paling utama dan harus dibahas tuntas. “Mengapa” akan menentukan cara kita menjawab perihal bagaimana, kapan, dimana, dan pertanyaan lainnya. “Mengapa” akan menjadi ruh yang membuat proses penerimaan mahasiswa asing menjadi penuh gairah dan berkelanjutan.

Secara pragmatis bisa dikatakan bahwa mahasiswa asing diperlukan hanya untuk memenuhi syarat akreditasi baik di tingkat universitas dan program studi. Dalam lampiran 6f Peraturan BAN-PT nomor 3 tahun 2019 tentang Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi, disebutkan bahwa nilai 4 baru akan diperoleh bila persentase mahasiswa asing mencapai minimal 0,5% dibandingkan dengan seluruh jumlah mahasiswa aktif. Sedangkan, pengaturan mahasiswa asing di tingkat program studi tercantum dalam lampiran 6a, 6b, dan 6c Peraturan BAN-PT nomor 5 tahun 2019 tentang Instrumen Akreditasi Program Studi. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa program studi akan mendapat nilai 4 apabila persentase mahasiswa asing mencapai 1% untuk jenjang sarjana, 2% untuk jenjang magister, dan 5% untuk jenjang doktor. Melihat angka-angka persentase di atas sudah selayaknya kita becermin, apakah penerimaan mahasiswa asing sudah kita rencanakan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai target?

Dengan pemikiran yang lebih luas dan mendalam, tentu banyak lagi alasan mengapa UNISSULA harus mempunyai mahasiswa asing. Dalam Statuta UNISSULA tahun 2019, petikan misi UNISSULA adalah “menyelenggarakan pendidikan tinggi Islam dalam rangka dakwah Islamiyah yang berorientasi pada kualitas dan kesetaraan universal, dengan…”. Dengan adanya mahasiswa asing, hampir bisa dipastikan bahwa cakupan dakwah Islamiyah UNISSULA akan semakin luas manfaatnya. Di samping itu, gambaran akan kualitas dan kesetaraan universal akan lebih jelas terlihat dengan latar belakang mahasiswa semakin beragam dari sisi ras, kebangsaan, dan budaya. Hal tersebut juga sejalan dengan kandungan Al-Qur’an surat Al Hujurat ayat 13 untuk saling mengenal berbagai suku dan bangsa.

Selaras dengan cita-cita UNISSULA menjadi World Class Islamic University, hadirnya mahasiswa asing di UNISSULA bisa menjadi pertanda bahwa pendidikan dan dakwah UNISSULA dapat diakses serta membawa manfaat bagi seluruh insan di penjuru dunia. Manfaat lain yang hadir dengan adanya mahasiswa asing adalah; konteks pembelajaran menjadi lebih beragam, internasionalisasi inbound bagi mahasiswa Indonesia menjadi lebih luas tanpa harus melakukan mobilitas ke luar negeri, dan strategi promosi UNISSULA menjadi lebih beragam. Hadirnya mahasiswa asing (melalui jalur mandiri) juga dapat menambah pemasukan keuangan universitas dan program studi.

 

Mempersiapkan diri menerima mahasiswa asing

Memperhatikan alasan pragmatis, ideologis, dan strategis yang tertulis di atas, banyak hal yang harus disiapkan untuk berbenah dalam menerima mahasiswa asing. Hal utama yang harus hadir adalah komitmen pimpinan baik di tingkat universitas, fakultas, dan program studi. Komitmen pimpinan harus diterjemahkan pada setiap kebijakan bahwa mahasiswa asing itu hakikatnya ada dan telah menjadi bagian dari UNISSULA. Lebih jauh, hal tersebut bermakna bahwa dalam pengambilan kebijakan apapun yang sasarannya adalah mahasiswa, harus menyertakan mahasiswa asing sebagai pertimbangan. Pengambilan kebijakan juga termasuk dalam hal alokasi anggaran. Sependek pengetahuan penulis, alokasi anggaran untuk penerimaan mahasiswa asing masih belum tertata dan belum terlihat signifikan.

Selain komitmen pimpinan, hal penting dalam persiapan menerima mahasiswa asing adalah peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya insani. Menerima mahasiswa asing sangat berbeda dengan menerima mahasiswa Indonesia. Ia tidak bisa diperlakukan secara sama dan dikerjakan dengan “nyambi”. Proses menerima mahasiswa asing lebih kompleks karena melibatkan banyak pihak seperti pihak Dirjen Dikti (pengurusan Izin Belajar), pihak Imigrasi (pengurusan Visa dan Izin Tinggal), dan pihak-pihak eksternal lain yang terlibat saat mahasiswa sudah tiba di Indonesia. Program studi dan fakultas harus mulai berani melakukan investasi dengan menambah jumlah staf yang nantinya akan ditugasi pada penerimaan mahasiswa asing.

Apabila pemasaran program studi dengan target mahasiswa nasional selama ini dilakukan dosen, untuk penerimaan mahasiswa asing harusnya dilakukan oleh staf (tenaga kependidikan) yang fokus untuk mengerjakan hal tersebut. Mengalokasikan staf secara khusus dapat menjadi awal bagi program studi dan fakultas untuk memulai perjalanannya dalam menerima mahasiswa asing secara profesional dan berkelanjutan. Untuk peningkatan kualitas, minimal harus ada pelatihan bahasa asing bagi seluruh staf dengan tujuan utama untuk menunjang pelayanan bagi mahasiswa asing baik layanan akademik maupun non-akademik.

Hal yang tidak kalah penting dalam persiapan menerima mahasiswa asing adalah menyusun strategi penerimaan mahasiswa asing berbasis target. Dalam pembahasan alasan pragmatis di atas, sudah tergambar jelas target umum yang harus dicapai program studi dalam penerimaan mahasiswa asing. Hal yang belum ada adalah strategi untuk mencapai target tersebut. Strategi ini harus disesuaikan dengan hasil yang diharapkan terkait mahasiswa asing yang akan dicapai termasuk jumlah, regional target, jalur masuk, dan skema pembiayaan.

 

Posisi saat ini dan langkah selanjutnya

Dalam 5 tahun terakhir, UNISSULA menunjukan grafik progresif dalam penerimaan mahasiswa asing yang dilihat dari penerbitan Izin Belajar (IB) baru setiap tahunnya.

·         Tahun 2017        :     9  Izin Belajar (terbanyak ke 123 nasional)

·         Tahun 2018        :   19 Izin Belajar (terbanyak ke 79 nasional)

·         Tahun 2019        :   57 Izin Belajar (terbanyak ke 52 nasional)

·         Tahun 2020        :      1 Izin Belajar

·         Tahun 2021        : 142 Izin Belajar (terbanyak ke 9 nasional) per 7 November 2021

Pada tahun 2020, UNISSULA melalui UPT. KUI secara tidak langsung mengambil kebijakan untuk tidak menerima mahasiswa asing dikarenakan situasi pandemi covid-19 yang masih tinggi di Indonesia. Selain itu, UPT. KUI juga diharuskan untuk fokus memantau mahasiswa asing yang berada di Indonesia serta mahasiswa UNISSULA yang sedang berada di luar negeri mengikuti student exchange.

Perihal data IB di atas, pengajuan masih didominasi oleh mahasiswa asing program non-gelar. Adapun mahasiswa bergelar sangat sedikit jumlahnya dan sebagian besar masuk melalui jalur beasiswa. Kekuatan UNISSULA pada 5 tahun terakhir ada pada program-program untuk mahasiswa non-gelar.

Melihat catatan tersebut, tentu kita semua harus melakukan refleksi dan berbenah. UNISSULA perlu membangun infrastruktur dan sistem yang baik serta berkelanjutan untuk menambah penerimaan mahasiswa asing bergelar. Sembari berbenah menuju perbaikan, mari kita terus bertanya pada diri sendiri ataupun unit yang kita tempati ataupun dikelola "sudah siapkah kita menerima mahasiswa asing?"

 

Rio Pribadi - Kepala Divisi Luar Negeri UPT.KUI

  • 0 Comments



“Hari-hari ini duka terlampau sering kujumpai. Ada yang di balik microphone surau, di bendera kuning pada pintu gang, atau di grup-grup Whatsapp. Pesannya sama, semua yang datang pasti akan pulang…”

Potongan sajak tersebut adalah air mata batin saya mendengar banyak berita kematian, terutama para pengabdi UNISSULA serta keluarga dan kerabatnya. Bulan Juli muda masih berusia 7 hari namun setidaknya ada 12 kabar duka yang melintas di grup Whatsapp para pengabdi. Virus Covid-19 memang hanya wasilah kematian, tapi apa harus sebanyak ini? Kematian sungguh rahasia Allah Swt., tapi kenapa menjadi sangat berurutan dan terbuka seperti ini? tentu pertanyaan tersebut hanyalah gambaran dialektika perasaan saya.

Bagi kita yang masih hidup, kematian itu perkara mencari titik keseimbangan antara kesedihan dan keikhlasan. Sedih karena harus melihat almarhum/almarhumah yang tercabut secara ruhiyah dari jasadnya, tercabut secara sosial dari lingkungannya, dan tercabut secara eksistensi dari riwayat interaksinya. Namun tentu saja kita terus berproses menuju sikap ikhlas. Ikhlas bahwa setiap yang terlahir ke dunia, akan kembali pulang menuju Allah Swt di waktu dan cara apapun sesuai kehendak-Nya.

Obituari ini saya tulis dengan harapan tidak ada lagi kabar duka di hari-hari berikutnya. Namun demikian kematian itu murni kehendak Allah Swt., bisa jadi kita atau bahkan saya yang pulang selanjutnya. Sungguh tidak ada yang mengetahui hal tersebut serta hikmah yang akan dibawanya. Sebagai muslim, kita harus percaya bahwa kematian bukan akhir segalanya. Justru kematian adalah dimulainya waktu untuk menuai hasil kebaikan dan iman yang terus kita upayakan selama hidup.

Mari terus berupaya untuk hidup untuk berbuat baik dan mengumpulkan bekal sebelum dipanggil pulang.

  • 0 Comments

sumber gambar : pixabay.com
sumber gambar : pixabay.com

Beberapa waktu lalu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (kemendikbudristek) baru saja mengeluarkan dua program terbaru dalam kerangka Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Kedua program tersebut adalah bantuan untuk program transfer kredit internasional (PTKI) dan beasiswa Indonesian international student mobility awards (IISMA). PTKI adalah bantuan pemerintah bagi mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah di universitas luar negeri melalui skema kerja sama bilateral antara universitas di Indonesia dengan universitas mitra luar negeri. Sedangkan, IISMA adalah beasiswa pemerintah bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program mobilitas internasional menuju universitas di luar negeri. IISMA dilaksanakan melalui skema kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan universitas luar negeri yang termasuk dalam 300 besar universitas unggulan dunia. 

Dua program yang diluncurkan pemerintah tersebut sungguh layak dan harus diapresiasi. Pemerintah terbukti hadir memberikan bantuan bagi perguruan tinggi yang terus dituntut untuk melakukan internasionalisasi institusi. Program mobilitas dan transfer kredit internasional merupakan bagian dari implementasi kerja sama internasional yang selama ini dikerjakan secara mandiri oleh perguruan tinggi dengan segala tantangannya. Diluncurkannya dua program tersebut seakan menjadi semangat baru bagi perguruan tinggi untuk terus mengembangkan kinerja internasionalisasi. Selain itu, hadirnya pemerintah bisa menjadi pertanda bahwa program internasionalisasi perguruan tinggi akan lebih mendapat perhatian di masa mendatang.

Kompetensi interkultural

Kerap disinggung dalam latar belakang program-program internasional tidak berarti selalu menjadi fokus perhatian. Internasionalisasi tidak lepas dari usaha-usaha perguruan tinggi untuk membekali mahasiswanya dengan kompetensi interkultural –dalam lingkup internasional. Kompetensi interkultural menjadi penting melihat dunia saat ini yang sudah benar-benar mengglobal tanpa kenal batas. Apalagi ditambah kentalnya sikap inferioritas anak bangsa terhadap bangsa lain, buah dari kolonialisme yang menurun berabad lamanya.

Deardoff (2006) menyampaikan bahwa kompetensi interkultural adalah sebuah kemampuan untuk secara sadar mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mengarah pada terciptanya perilaku dan komunikasi yang tepat serta efektif dalam interaksi antar budaya. Berangkat dari pengertian tersebut, mahasiswa Indonesia diharapkan agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam berinteraksi dengan bangsa negara lain. Di sisi lain, pemerintah dan perguruan tinggi juga harus berkomitmen dan aktif menyediakan wahana interaksi budaya bagi mahasiswa.

Internasionalisasi hanya milik segelintir kecil?

Program PTKI dan IISMA yang digagas pemerintah, sekali lagi, sangat patut dan harus diapresiasi. Paparan internasional yang ditawarkan layaknya padepokan untuk sebenar-benarnya menggapai kompetensi interkultural bagi mahasiswa. Namun demikian, apakah semua mahasiswa Indonesia sudah memiliki kesempatan yang sama? dengan akses yang sama? bantuan dan pendampingan yang sama? tentu hal ini layak menjadi kajian lebih lanjut. Meski begitu, ketidakmerataan kesempatan dapat terlihat dari jumlah kuota bantuan yang ditawarkan pemerintah. Program PTKI hanya membolehkan suatu perguruan tinggi menominasikan paling banyak 10 mahasiswa. Sedangkan IISMA secara global hanya diperuntukkan bagi 1000 mahasiswa Indonesia dari total 6.259.941 mahasiswa yang terdaftar aktif di pangkalan data perguruan tinggi. Bagaimana dengan mahasiswa yang lain? Apakah benar internasionalisasi hanya milik segelintir kecil mahasiswa?.

Alih-alih bermimpi memberangkatkan semua mahasiswa Indonesia ke kancah dunia, pemerintah dan perguruan tinggi harus bisa membawa dunia datang ke Indonesia. Peningkatan mutu perguruan tinggi melalui rekognisi global serta internasionalisasi yang bersifat ke dalam/inbound harus terus diupayakan. Sebuah kampanye yang bertajuk ‘internasionalisasi di rumah’ / internationalisation at home harus segera dirumuskan oleh pemerintah dan perguruan tinggi. Internasionalisasi perguruan tinggi adalah keniscayaan dalam menguatkan kepribadian bangsa, melalui pencapaian kompetensi interkultural yang merupakan hak seluruh mahasiswa Indonesia.

(Rio Pribadi)


Sumber :

-      Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Petunjuk teknis bantuan pemerintah program transfer kredit internasional. Direktorat pembelajaran dan kemahasiswaan.

-      Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Panduan beasiswa indonesian international student mobility awards tahun 2021. Tim Indonesian international student mobility awards (IISMA).

-     Deardorff, D. K. (2006). Identification and assessment of intercultural competence as a student outcome of internationalization. Journal of Studies in International Education, 10(3), 241–266.

-       Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. (2021). Statistik mahasiswa. https://pddikti.kemdikbud.go.id/mahasiswa


  • 0 Comments

Hingga saat ini sudah sekitar 3 tahun lebih sejak saya bekerja di Kantor Urusan Internasional (KUI) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. KUI adalah sebuah entitas di suatu universitas yang didirikan untuk mengatur urusan-urusan internasional universitas tersebut seperti perjanjian kerja sama dengan mitra luar negeri, kunjungan ke luar negeri, atau pertukaran dosen/mahasiswa ke luar negeri. Suka duka dan berbagai cerita tentu sudah banyak saya alami, namun yang selalu berkesan adalah ketika awal bergabung.

Pekerjaan saya sekarang tidak linier namun cukup relevan dengan pendidikan terakhir saya. Saya lulus dari Universitas Negeri Semarang pada 2013 dengan mengambil program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Hampir setahun bekerja di salah satu hotel bintang 4 di Semarang, saya memutuskan untuk resign dan mengikuti program SM-3T (akan saya ceritakan di kesempatan lain) yang diselenggarakan oleh Kemenristekditi. Sepulang SM-3T, saya mengikuti kuliah Program Profesi Guru (PPG) selama 1 tahun hingga akhirnya lulus pada akhir tahun 2016. Setelah itu dimulailah lagi proses mencari kerja selayaknya orang lain.

Pada saat itu saya ingat bahwa salah satu unit UNISSULA membuka lowongan pekerjaan sebagai tentor/pengajar Bahasa Inggris. Beberapa hari berselang, terbit lagi lowongan pekerjaan di UNISSULA sebagai karyawan di unit pengembangan bahasa internasional. Saya kira kedua lowongan tersebut sama, namun ternyata sangat berbeda. Alhamdulillah waktu itu saya mendaftar di kedua lowongan tersebut hingga bisa mengikuti proses keduanya. Ternyata, lowongan pertama sebagai tentor Bahasa Inggris tersebut hanyalah sebagai tenaga kontrak non permanen hingga akhirnya saya menolaknya ketika sesi wawancara. Alhamdulillah saya diterima di lowongan yang kedua, NAMUN DITEMPATKAN DI UNIT LAIN DAN BARU DIBERI TAHU KETIKA HARI PERTAMA KERJA.

Betapa kaget waktu itu saat saya di tempatkan untuk bekerja di posisi yang bahkan saya sendiri tidak berniat mendaftarnya. Saya di tempatkan di UPT. Kerja Sama Dalam dan Luar Negeri yang kemudian saya sadari bahwa salah satu fungsinya adalah sebagai kantor urusan internasional. Manusia memang pandai berencana, namun rencana terbaik hanya milik Allah Swt. Saya ditempatkan bukan di unit tempat mengajarkan kemampuan Bahasa Inggris, namun di unit yang hampir sehari-hari langsung menerapkan Bahasa tersebut. Korespondensi dan komunikasi dengan mitra luar negeri, menjalin jejaring dengan badan-badan internasional, dan terlibat agenda acara-acara internasional, semuanya menuntut saya untuk kembali belajar kemampuan berbahasa dan berkomunikasi.

Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang hebat yang pernah bergabung di KUI UNISSULA. Bu Muna Madrah, ibu dan mentor bagi semua karyawan di sana, Pak Hendri yang merupakan komunikator ulung dalam korespondensi dan komunikasi, dan Mbak Lia sang penjaga ketertiban administrasi dan keuangan unit. Saya sangat belajar banyak dari mereka dan selalu menjadikan mereka sebagai panutan di bidangnya masing-masing. Kini saatnya saya dan rekan-rekan kerja yang tidak kalah hebatnya untuk meneruskan laju kerja KUI. Semoga kami dapat bekerja dengan amanah dan dapat membuat sistem serta lingkungan kerja yang dapat mengeluarkan semua potensi orang-orang di dalamnya.








  • 0 Comments
Postingan Lama Beranda

I am here

o

About me

a


Rio Pribadi

"Laci Inspirasi adalah hal sederhana yang membuatmu tetap nyaman dan bersyukur”


Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • Twitter

recent posts

Label

Laci Bandungan Laci Kerja Laci Puisi Laci Renungan Laci Studi

Arsip Blog

  • November 2025 (3)
  • September 2025 (2)
  • Agustus 2025 (1)
  • Juli 2025 (1)
  • Juni 2025 (1)
  • Desember 2024 (5)
  • November 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Januari 2024 (2)
  • Oktober 2023 (2)
  • April 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (2)
  • November 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (1)
  • Mei 2021 (2)
  • Februari 2021 (1)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (7)

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Rio Pribadi
Lihat profil lengkapku

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top